Fondasi Ontologis Pendidikan Agama Kristen: Hakikat Manusia, Pengetahuan, dan Iman dalam Perspektif Filsafat Ilmu
Oleh:
Yonas Muanley
E-mail:ymuanley@sttiksm.ac.id
Sekolah Tinggi Teologi IKSM Santosa Asih
Program Studi Pendidikan Agama Kristen
Abstrak:
Pendidikan Agama Kristen sering dipahami secara normatif dan praktis sebagai sarana pewarisan iman, sementara refleksi filosofis terhadap dasar keilmuannya masih relatif terbatas. Dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, kondisi ini berdampak pada lemahnya legitimasi akademik Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmu. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dasar ontologis Pendidikan Agama Kristen dengan menelaah hakikat manusia, pengetahuan, dan iman dalam perspektif filsafat ilmu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi pustaka terhadap literatur filsafat ilmu, teologi Kristen, dan Pendidikan Agama Kristen. Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki fondasi ontologis yang khas, yakni manusia sebagai imago Dei, pengetahuan yang bersumber dari integrasi wahyu, rasio, dan pengalaman, serta iman sebagai realitas ontologis yang memberi makna dan arah bagi proses pendidikan. Kebaruan (novelty) artikel ini terletak pada perumusan kerangka ontologis Pendidikan Agama Kristen yang sistematis dalam perspektif filsafat ilmu, yang masih jarang dikaji secara eksplisit dalam konteks akademik Indonesia. Kajian ini berkontribusi secara teoretis dalam memperkuat legitimasi Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmiah serta memberikan dasar konseptual bagi pengembangan kurikulum dan praktik pedagogis yang reflektif dan kontekstual.
Kata kunci: filsafat ilmu, ontologi, pendidikan agama Kristen, iman, pengetahuan.
Metodologi
Isi metodologi penelitian Anda...
1. Pendahuluan
Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin akademik menuntut legitimasi keilmuan yang tidak hanya bersifat normatif, tetapi juga reflektif dan kritis. Dalam filsafat ilmu, kejelasan fondasi ontologis merupakan syarat utama bagi eksistensi suatu disiplin ilmu (Chalmers, 2013; Suriasumantri, 2017). Tanpa refleksi ontologis yang memadai, Pendidikan Agama Kristen berisiko dipahami semata-mata sebagai praktik religius, bukan sebagai bidang kajian ilmiah.
Dalam konteks pendidikan tinggi di Indonesia, Pendidikan Agama Kristen kerap dipersepsikan sebatas sebagai aktivitas pedagogis yang bersifat normatif-dogmatis. Persepsi ini berdampak pada marginalisasi Pendidikan Agama Kristen dalam diskursus akademik, khususnya ketika berhadapan dengan paradigma ilmu modern yang menekankan rasionalitas, objektivitas, dan verifikasi ilmiah. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya refleksi filosofis yang lebih mendalam terhadap dasar keilmuan Pendidikan Agama Kristen.
Berbagai kajian Pendidikan Agama Kristen di Indonesia umumnya menitikberatkan pada aspek kurikulum, metode pembelajaran, dan penguatan karakter Kristen (Homrighausen & Enklaar, 2015; Pazmiño, 2008). Meskipun penting, pendekatan-pendekatan tersebut relatif jarang menyentuh dimensi ontologis sebagai fondasi keilmuan. Celah penelitian (research gap) inilah yang menunjukkan minimnya kajian yang secara eksplisit dan sistematis membahas hakikat ontologis Pendidikan Agama Kristen dalam perspektif filsafat ilmu.
Dalam perspektif teologi Kristen, manusia dipahami sebagai imago Dei yang memiliki dimensi rasional, moral, dan spiritual. Pemahaman ini memiliki implikasi ontologis yang signifikan terhadap cara Pendidikan Agama Kristen memandang peserta didik, pengetahuan, dan tujuan pendidikan. Namun, relasi antara konsep teologis tersebut dengan kerangka filsafat ilmu belum banyak dielaborasi secara kritis dalam konteks akademik Indonesia.
Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis fondasi ontologis Pendidikan Agama Kristen dengan menelaah hakikat manusia, pengetahuan, dan iman dalam perspektif filsafat ilmu. Kebaruan (novelty) artikel ini terletak pada upaya merumuskan kerangka ontologis Pendidikan Agama Kristen secara integratif dan sistematis melalui dialog antara teologi Kristen dan filsafat ilmu. Dengan demikian, artikel ini diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmiah serta menjadi dasar konseptual bagi penelitian dan praktik pendidikan Kristen yang reflektif dan kontekstual di Indonesia.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan metode studi pustaka (library research). Pendekatan studi pustaka lazim digunakan dalam penelitian filsafat dan teologi pendidikan untuk mengkaji konsep-konsep dasar keilmuan secara kritis, reflektif, dan sistematis (Creswell & Poth, 2018; Kaelan, 2012). Melalui analisis filosofis, penelitian ini berupaya membangun sintesis ontologis Pendidikan Agama Kristen yang koheren dalam perspektif filsafat ilmu.
Pemilihan metode ini didasarkan pada fokus penelitian yang bersifat konseptual, yakni analisis fondasi ontologis Pendidikan Agama Kristen, bukan pada pengujian hipotesis empiris. Studi pustaka memungkinkan peneliti menelaah secara mendalam relasi antara iman, pengetahuan, dan hakikat manusia sebagai objek kajian utama Pendidikan Agama Kristen.
Sumber data penelitian terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer meliputi karya-karya filsafat ilmu (khususnya kajian ontologi ilmu), literatur teologi Kristen, serta buku dan tulisan inti dalam bidang Pendidikan Agama Kristen. Sumber sekunder mencakup artikel jurnal ilmiah dan publikasi akademik yang relevan dengan tema relasi iman, ilmu, dan pendidikan, baik dalam konteks global maupun Indonesia.
Analisis data dilakukan melalui tiga tahap. Pertama, identifikasi dan klasifikasi konsep, yaitu menyeleksi konsep-konsep kunci yang berkaitan dengan ontologi manusia, pengetahuan, dan iman. Kedua, analisis kritis-filosofis, yakni mengkaji relasi antar-konsep tersebut dalam kerangka filsafat ilmu. Ketiga, sintesis teoretis, yaitu merumuskan kerangka ontologis Pendidikan Agama Kristen yang integratif dan sistematis. Keabsahan kajian dijaga melalui penggunaan sumber akademik yang kredibel serta konsistensi logis dalam penyusunan argumentasi.
HASIL PENELITIAN
Ontologi Manusia dalam Pendidikan Agama Kristen
Hasil kajian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki pemahaman ontologis yang khas mengenai manusia. Manusia dipahami bukan hanya sebagai makhluk rasional atau sosial, melainkan sebagai pribadi utuh yang memiliki dimensi jasmani, intelektual, moral, dan spiritual. Konsep teologis imago Dei menjadi fondasi ontologis utama yang menegaskan martabat dan nilai intrinsik manusia dalam proses pendidikan (Hoekema, 1994).
Dalam konteks pendidikan, pemahaman ini menuntut pendekatan pedagogis yang holistik dan personal (Knight, 2006). Peserta didik diposisikan sebagai subjek aktif dalam proses pendidikan, bukan sebagai objek pasif. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen berorientasi pada pembentukan pribadi secara menyeluruh, yang mencakup pengembangan iman, pengetahuan, dan karakter.
Ontologi Pengetahuan dalam Pendidikan Agama Kristen
Kajian ini menunjukkan bahwa pengetahuan dalam Pendidikan Agama Kristen dipahami secara integratif. Dalam perspektif filsafat ilmu, pengetahuan tidak bersifat tunggal, melainkan bersumber dari berbagai dimensi epistemik (Groome, 2011). Pendidikan Agama Kristen memandang wahyu sebagai sumber kebenaran fundamental yang diolah melalui rasio dan pengalaman manusia (Frame, 2010).
Integrasi antara wahyu, rasio, dan pengalaman menolak dikotomi tajam antara iman dan ilmu. Pengetahuan iman tidak diposisikan sebagai lawan pengetahuan ilmiah, melainkan sebagai dimensi yang memperkaya pemahaman manusia tentang realitas. Dengan kerangka ini, Pendidikan Agama Kristen memiliki landasan ontologis yang memungkinkan dialog konstruktif dengan ilmu pengetahuan modern tanpa kehilangan orientasi teologisnya.
Ontologi Iman sebagai Dasar Pendidikan
Iman dalam Pendidikan Agama Kristen dipahami sebagai realitas ontologis yang membentuk horizon makna manusia (Tillich, 1957). Iman tidak meniadakan rasionalitas, tetapi memberikan orientasi transenden bagi proses pendidikan dan pencarian kebenaran (Newbigin, 1989).
Hasil kajian menegaskan bahwa iman bukan sekadar sikap personal atau afeksi religius, melainkan menjadi kerangka ontologis yang mengarahkan tujuan, isi, dan praksis pendidikan. Iman membentuk cara pandang manusia terhadap diri, dunia, dan Allah, serta memberikan arah etis dan eksistensial bagi seluruh proses pembelajaran dalam Pendidikan Agama Kristen.
PEMBAHASAN
Fondasi Ontologis dan Legitimasi Keilmuan Pendidikan Agama Kristen
Dalam filsafat ilmu, legitimasi suatu disiplin ditentukan oleh kejelasan objek material dan objek formalnya (Suriasumantri, 2017). Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki fondasi ontologis yang memadai untuk diakui sebagai disiplin ilmiah. Objek kajiannya berupa manusia dan proses pendidikan yang dipahami dalam terang iman Kristen memberikan kekhasan ontologis yang membedakannya dari disiplin pendidikan lainnya.
Kejelasan ontologis ini memungkinkan Pendidikan Agama Kristen berdialog secara kritis dengan disiplin ilmu lain tanpa kehilangan identitas teologisnya (Hiebert, 1994). Dalam konteks akademik Indonesia, refleksi ontologis ini memperkuat posisi Pendidikan Agama Kristen di tengah tuntutan saintifikasi ilmu, sekaligus menegaskan bahwa unsur iman tidak bertentangan dengan rasionalitas ilmiah, melainkan memperkaya dan memperdalam makna keilmuan.
Implikasi Ontologis terhadap Praktik Pendidikan Kristen
Fondasi ontologis yang kuat berimplikasi langsung pada praktik Pendidikan Agama Kristen. Guru atau pendidik Kristen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi sebagai pendamping dalam proses pembentukan makna, iman, dan karakter peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum Pendidikan Agama Kristen perlu dirancang dengan mempertimbangkan dimensi ontologis peserta didik sebagai pribadi yang beriman, berpikir, dan berelasi.
Pendekatan pedagogis yang dialogis, reflektif, dan kontekstual menjadi relevan karena sejalan dengan ontologi manusia yang dinamis. Dengan demikian, Pendidikan Agama Kristen tidak terjebak dalam pengajaran yang dogmatis dan mekanis, tetapi berkembang sebagai praksis pendidikan yang kritis, transformatif, dan bermakna.
Kontribusi Teoretis bagi Pengembangan Pendidikan Agama Kristen
Secara teoretis, artikel ini berkontribusi pada penguatan kerangka filsafat ilmu dalam Pendidikan Agama Kristen. Perumusan fondasi ontologis yang sistematis membuka ruang bagi pengembangan kajian epistemologis dan aksiologis secara lebih terarah. Dengan kerangka tersebut, Pendidikan Agama Kristen dapat dibangun sebagai disiplin ilmu yang utuh, reflektif, dan kontekstual dalam konteks Indonesia.
KESIMPULAN
Artikel ini menyimpulkan bahwa fondasi ontologis merupakan elemen kunci dalam pengembangan Pendidikan Agama Kristen sebagai disiplin ilmiah. Hakikat manusia sebagai imago Dei, pengetahuan yang bersumber dari integrasi wahyu, rasio, dan pengalaman, serta iman sebagai realitas ontologis membentuk dasar konseptual yang khas dan koheren.
Melalui perspektif filsafat ilmu, Pendidikan Agama Kristen memperoleh legitimasi akademik tanpa kehilangan identitas teologisnya. Kajian ini merekomendasikan agar refleksi ontologis dijadikan bagian integral dalam pengembangan kurikulum, pedagogi, dan penelitian Pendidikan Agama Kristen di Indonesia, sehingga mampu berkontribusi secara signifikan dalam diskursus keilmuan dan praksis pendidikan nasional.
DAFTAR PUSTAKA
Chalmers, A. F. (2013). What is this thing called science? (4th ed.). Open University Press.
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2018). Qualitative inquiry and research design: Choosing among five approaches (4th ed.). SAGE Publications.
Frame, J. M. (2010). The doctrine of the knowledge of God. P&R Publishing.
Groome, T. H. (2011). Will there be faith? A new vision for educating and growing disciples. HarperOne.
Hiebert, P. G. (1994). Anthropological insights for missionaries. Baker Academic.
Hoekema, A. A. (1994). Created in God’s image. Eerdmans.
Homrighausen, E. G., & Enklaar, I. H. (2015). Pendidikan agama Kristen. BPK Gunung Mulia.
Kaelan. (2012). Metode penelitian kualitatif interdisipliner. Paradigma.
Knight, G. R. (2006). Philosophy and education: An introduction in Christian perspective (4th ed.). Andrews University Press.
Newbigin, L. (1989). The gospel in a pluralist society. Eerdmans.
Pazmiño, R. W. (2008). Foundational issues in Christian education: An introduction in evangelical perspective (3rd ed.). Baker Academic.
Suriasumantri, J. S. (2017). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar Harapan.
Tillich, P. (1957). Dynamics of faith. Harper & Row.
Posting Komentar untuk "Dasar Ontologis Pendidikan Agama Kristen"
Posting Komentar